Green Movement; Ikut Kampanyekan ‘Save Our Earth’ dengan Eco Fashion

green fashion
 “The fashion industry tends to attract people with serious personality defects. They just want to be rich and famous. But at some point you have to decide: Are you going to mindlessly go to the easy way or are you going to go the ethical way? “~Katharine hamnett.

Fashion (dalam bahasa inggris) secara etimologi berasal dari bahasa latin ‘factio’ yang berarti melakukan, kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘fesyen’ yang menurut definisi Wikipedia berarti mode. Kebanyakan orang mengimplikasikan fashion atau fesyen dengan pakaian atau perangkat yang melengkapi pakaian. Masyarakat kontemporer barat mengartikan fashion sebagai dandanan, gaya, dan busana. Hal tersebut dipertajam oleh media barat dengan predikat pusat fashion yang diberikan pada kota seperti New York, Milan, Paris, dan London  dimana desainer terkenal menyelanggarakan fashion show.

Busana yang merupakan produk fashion dipandang tidak hanya sebagai kebutuhan primer, tetapai juga sebuah simbol aktualisasi diri.  Thomas Carlyle mengatakan bahwa, pakaian adalah lambang jiwa (emblems of soul) sang pemakai. Karena itu Thomas tekankan, fashion bisa diibaratkan sebagai ‘kulit sosial’ yang artinya ia mencerminkan life style dan identitas tertentu suatu komunitas yang merupakan bagian dari kehidupan sosial. Bahkan menurut Thomas, fashion dapat membantu menentukan sikap dan menunjukkan status sosial. Dalam rangka aktualisasi diri tidak jarang membuat orang menjadi konsumtif akan fashion. Padahal, setiap bagian dari pakaian yang kita beli telah memiliki dampak di planet kita bahkan sebelum kita membawanya pulang.

Impak Krusial Dibalik Apa yang Kita Pakai Sehari-hari.

Rasanya adil untuk mengatakan bahwa apa yang kita pakai membuat bumi rusak. Berdasarkan data dari Environmental Protection Agency (EPA) sebuah lembaga Pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang bertugas untuk melestarikan lingkungan hidup,  terdapat 13,1 juta ton tekstil yang dibuang setiap tahun di AS. Hanya 15 % yang disumbangkan atau didaur ulang. Selain itu, terdapat tekstil sia-sia dalam jumlah besar setiap tahunnya karena ketidaksesuaian produksi dan kebanyakan terbuat dari serat sintetis. Terhitung sekitar setengah dari semua penggunaan serat tidak terurai,  dan wol melepaskan metana selama proses dekomposisi TPA.

Dalam sebuah film dokumenter berjudul “The True Cost” yang dirilis tahun 2015 lalu, industri garmen diklaim menjadi pencemar nomor dua di dunia. Hal tersebut dikarenakan proses kompleks yang terdiri dari  pertanian kapas, manufaktur serat, pencelupan, pencetakan dan bleaching. Bagaimana tidak?  Produksi kapas adalah  salah satu salah satu dari sebagian besar tanaman intensif air, bertanggung jawab untuk 2,6 persen penggunaan air global dan bergantung pada tingginya volume pestisida serta pupuk yang digunakan untuk meningkat produksi per acre. Hal tersebut berkontribusi pada pencemaran air tanah dan udara, serta berkurangnya kesuburan tanah.

Dilansir dari situs www.greenpeace.org dalam sebuah artikel berjudul “Fast fashion is ‘drowning’ the world. We need a Fashion Revolution!”, dalam proses pencelupan  ada 1,7 juta ton bahan kimia yang digunakan. Bahan kimia yang digunakan seperti  PFCs diklaim akan meninggalkan dampak pada lingkungan dengan tetap tinggal selama ratusan tahun lebih setelah dirilis.  Banyak jenis pakaian yang kita gunakan terbuat dari serat sintesis seperti nylon maupun polyester. Padahal bahan-bahan tersebut terbuat dari petrokimia penyebab polusi tingkat tinggi pada lingkungan serta global warming.  Terlebih lagi, bahan-bahan tersebut juga sulit di daur ulang. Dalam proses produksinya,  nylon merilis nitro oksida yang dikalim sebagai gas berbahaya dalam efek rumah kaca (greenhouse) yang memiliki kekuatan 310 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dan menyebabkan global warming.

Seni Mencintai Bumi dengan Eco Fashion; Save Our Earth!

Industri fashion dapat berjalan selaras dengan penyelamatan lingkungan agar menjadi trade fair bagi semua. Di negara maju, organik dan eco fashion sudah menjadi sesuatu yang konvensional dan sangat penting. Akan tetapi nampaknya kesadaran eco fashion di Indonesia masih cukup rendah. Eco fashion merupakan fashion ramah lingkungan atau green fashion, atau biasa juga disebut sustainable fashion. Berupa produk fashion dengan konsep yang diciptakan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan fair bagi semua makhluk hidup. Pada maknanya, eco fashion bukan produk yang hanya memakai organic cotton atau menggunakan recycle material. Ia merupakan subyek yang luas dengan cabang yang berkolerasi dengan konsep fashion lain seperti ethical fashion.  Ada beberapa produk yang termasuk eco fashion seperti vegan, organik, fair trade, recycle, dan vintage. Vegan merupakan produk fashion yang tidak terbuat dari kulit atau binatang, sehingga tidak mengancam populasi hewan. Organik, terbuat dari bahan-bahan yang ditumbuhkan sesuai standar pertanian organik. Recycle, terbuat dari sampah atau benda tak terpakai yang biasanya muncul dalam bentuk couture (teknik jahit tingkat tinggi). Sedangkan vintage merupakan produk lama yang di upcycling  sehingga menjadi produk baru.

Seperti biasa, sebuah perubahan tidak pernah mudah untuk dilakukan. Seperti yang dikatakan Chip Heath dan Dan Heath  dalam bukunya yang berjudul “Switch: How To Change Things when Change is Hard” . Untuk mengubah tingkah laku, kita  harus menuntun si pengendara,  memotivasi sang gajah, dan membangun jalurnya.  Begitu juga perubahan dalam dunia fashion ini. Ada beberapa hal yang menjadi faktor masih kurangnya minat pelaku industri untuk beralih ke industri yang lebih hijau, salah satunya adalah kurangnya permintaan dari konsumen karena sebagian besar konsumen masih kurang ‘aware’ dengan konsep ini. Lets to save our earth! Kalau bukan kita, siapa lagi?

Untuk konsultasi dan pemesanan jasa jahit bisa langsung download App Kostoom atau hubungi nomor WA Kamila di bawah ini ya :

Download Our App :
https://tinyurl.com/kostoom

Kamila (WA/Call) :
087885620515 (bit.ly/KostoomTanya)
082267103465 (bit.ly/KostoomHaloo)

Instagram (IG) :
https://instagram.com/kostoom

Ada ratusan penjahit yang siap membantu Anda

Related Posts

Hi Kostoomer! Please Chat with Me to ask anything about kostoom.

Chat